EYANG SAPU JAGAT PENGUASA GUNUNG MERAPI
JejakMisteri - Berbicara tentang penunggu gaib Gunung Merapi di Jogja, tidak lepas dari sejarah & mitos mistis dengan sosok Eyang Sapu Jagad.
Ia merupakan penjaga kelanggenan, keluhuran & kesucian Gunung merapi.
Selain itu, ia juga menguasai tanah.
Ada kisah & cerita mistis yang kental di Gunung Merapi, terutama petilasan Ki Juru Mertani ketika bertapa sebelum mendirikan Kerajaan Mataram.
Dalam kisah sejarah Babad Tanah Jawa, Ki Juru Mertani datang ke Gunung Merapi untuk bertapa, memperoleh petunjuk untuk mendirikan Kerajaan Mataram. Ia meminta bantuan untuk keselamatan warga Mataram di selatan sana.
Jangan sampai ada lahar, batu, pasir lari ke arah selatan. Agar semua bencana di tutupi jalannya.
Tiap tahun Kraton mengadakan upacara untuk menghormatinya.
Sampai Mataram pecah, tradisi Labuhan harus tetap di laksanakan. Atau kalau masih mempercayainya maka akan tetap di anggap saudara, masih akan di beri bantuan.
Nama lainnya adalah Ki Sapu Jagat, Kyai Sapu Jagad, Mbah Sapu Jagad dsb.
Labuhan Merapi, prosesi yang digelar setiap tahun itu ternyata sudah dilakukan sejak zaman pemerintahan raja pertama Kesultanan Mataram Islam, Sutawijaya.
Cerita yang dihimpun dari masyarakat secara turun temurun, Gunung Merapi sejak semula telah dianggap luar biasa oleh masyarakat Yogyakarta.
Bukan hanya letusan yang dianggap menakutkan, melainkan juga berkah yang diberikan Merapi bagi masyarakat sekitar, seperti pertanian yang baik dan sumber air melimpah.
Masyarakat Kasultanan Mataram percaya, Gunung Merapi didiami oleh sosok yang mereka kenal dengan nama Kyai Sapu Jagad atau Eyang Sapu Jagad.
Syahdan, suatu ketika Sutawijaya membuat perjanjian suci dengan Kyai Sapu Jagad.
Isi perjanjian itu salah satunya adalah Raja Mataram beserta keturunannya bersedia memberikan sesaji untuk penguasa Merapi setiap tahun.
Sebagai imbalannya rakyat Mataram dilindungi dari bencana.
Dalam perkembangannya, labuhan yang berarti persembahan menjadi ritual wajib Keraton Yogya tanpa mengurangi kesakralannya.
Pelaksanaannya harus bergantung pada perintah raja yang berkuasa dan dipimpin oleh Juru Kunci Merapi.
Ritual yang dilakukan berupa doa kepada Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur atas berkah melimpah melalui Merapi serta tanda penghormatan kepada leluhur yang menjaga gunung itu.
Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo menuturkan prosesi ini untuk menunjukkan keharmonisan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Merapi.
"Saling menjaga dan bentuk ucapan syukur," tutur Mas Kliwon,
Hal senada juga diungkapkan Pakar Kegunungapian Surono yang ikut menghadiri Labuhan Merapi.
Ia mengaku tidak paham makna secara metafisika.
"Namun dari segi sosial ini menunjukkan kehidupan harmonis yang selaras," ucap pakar Gunung Api yang akrab disapa Mbah Rono
Poros Merapi-Keraton Yogya-Laut Kidul
Mitos tentang Gunung Merapi kemudian diuji.
Dari kacamata penduduk lereng Merapi yang percaya, Eyang Merapi mblenjani janji.
Apakah Eyang Merapi melupakan janji yang dulu pernah diucapkan kepada Panembahan Senopati pendiri Mataram, seperti tersirat dalam mitos Endhog Sapu Jagad, yakni tidak akan menimpakan bencana kepada rakyat Mataram?
Mengapa pula Eyang Merapi tidak memberi isyarat terlebih dulu kepada penduduk agar bisa menyelamatkan diri?
Oleh karena itu pada malam Jumat Kliwon, 2 Desember 1994, Marijan bersama tetua warga Dusun Kinahrejo mengadakan upacara selamatan dan tirakatan.
Tujuannya supaya warga, khususnya masyarakat lereng Merapi, yang masih hidup diberi keselamatan.
Upacara selamatan itu juga dipakai oleh warga dusun Kinahrejo dan sekitamya agar tetap diperbolehkan bermukim di tanah kelahirannya.
Persepsi Gunung Merapi sebagai keraton makhluk halus tak bisa dilepaskan dari mitos Endhog Sapu Jagad.
Di sana tersirat hubungan antara Keraton Mataram, Keraton Laut Kidul, dan Keraton Merapi.
Ketiga keraton itu, menurut M.M. Sukarto K. Atmodjo, memiliki hubungan mistis dan adikodrati, yang menjamin ketenteraman bagi keberlangsungan raja dan kerajaan beserta seluruh rakyatnya.
"Gunung itu lambang lelaki, laut simbol perempuan. Persatuan keduanya mutlak mirip konsep lingga - yoni, yakni sangkan paraning dumadi," ujar Sukarto yang pakar sejarah Jawa kuno.
Kalau Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa lautan (di selatan), Sapu Jagad adalah penguasa gunung (di utara), maka Panembahan Senopati sebagai penguasa di dataran (Kerajaan Mataram) merupakan simpul penghubung keharmonisan atas keduanya.
Di samping itu kekuatan Mataram tergantung pada dua itu. Itu sebabnya Keraton Yogyakarta setiap tahun menyelenggarakan upacara labuhan.
Hubungan kekeluargaan antara ketiga keraton itu antara lain tercermin pada kepercayaan masyarakat di sepanjang Kali Opak.
Kedua sungai yang bermata air di Gunung Merapi ini dipercaya sebagai jalan utama kunjungan kekeluargaan antara penghuni Laut Kidul dan Gunung Merapi.
Lampor yang dibarengi suara gemerincing di malam hari, diyakini sebagai barisan makhluk halus berkereta kuda pimpinan Kanjeng Ratu Kidul yang hendak kembali pulang dari kunjungannya ke Merapi, menyusuri Kali Opak.