PABRIK NJALUK TUMBAL NYOWO
PABRIK NJALUK TUMBAL NYOWO (PABRIK PEMAKAN JIWA)
JejakMisteri - Sebuah pabrik tua yang memiliki throwback (masa lalu) yang sangat mengerikan.
Sebelum itu saya menekankan kepada semua pembaca untuk merahasiakan tempat dan nama pabrik ini jika kalian tahu.
Karena narasumber sendiri sepakat untuk menyamarkan nama pabrik, tempat, pelaku dan seluruh komponen yang tertulis dari kisah ini.
Saking seramnya kisah ini, sempat dijadikan sebuah obrolan yang sangat hangat di masyarakat sekitar.
Kejadian ini bermula pada tahun 1960-an yang mana narasumber sendiri menceritakan ini secara turun temurun kepada keluarganya.
Sebuah pabrik di Jawa Tengah yang memiliki sebuah kesan menarik untuk digali misterinya serta asal-usul pabrik itu mengalami penyurutan.
Penyurutan di sini terarah di berbagai sektor. Karena dahulunya, pabrik ini merupakan salah satu pabrik terbesar dan banyak orang yang tahu akan ketenarannya di masa itu.
Pemilik Pabrik ini sebut saja Keluarga Darmono. Entah benar atau tidaknya, Pak Darmono masih memiliki garis keturunan dengan keluarga Bangsawan yang mungkin bisa digaris bawahi sebagai orang ningrat kala itu.
Pak Darmono memiliki isteri yang sangat cantik juga dua orang anak laki-laki dan perempuan. Isterinya bernama Rahayu dan dua orang anaknya masing-masing bernama Damar dan Sri.
Mereka tinggal di sebuah lahan kosong yang nantinya akan digunakan untuk membangun sebuah pabrik megah
Saya akan ceritakan awal mula Keluarga Darmono ini memiliki sebuah pabrik.
Kisah ini bermula ketika Pak Darmono memiliki lahan yang sangat luas. Saking luasnya, dia bingung untuk membangun apa yang sesuai untuk mencakupi keluasan lahan itu sendiri.
Akhirnya, atas usul dari isterinya, Pak Darmono membuka usaha seperti pengolahan kayu yang tentunya waktu itu menjadi sebuah sumber utama dan sangat efektif terhadap penjualan yang meroket drastis.
Namun, Pak Darmono bingung untuk memulai dari mana. Sedangkan dia sendiri belum tahu apakah usaha itu akan lama dan berjalan dengan sukses seperti yang diharapkan.
Dia kembali gelisah. Lambat laun, kegelisahannya itu terbawa hingga kepada sebuah mimpi yang aneh.
Pak Darmono didatangi oleh seseorang dengan menggunakan pakaian adat jawa serta keris yang menempel di belakangnya.
Orang itu tampak sangat sopan dan berwibawa serta memberikan solusi agar pabriknya bisa berjalan dengan sukses
Orang itu memerintahkan kepada Pak Darmono untuk melakukan ritual khusus di lahan yang kosong itu dengan cara menyiraminya dengan darah kerbau setiap malam tepat bulan berada di atas kepalanya.
Bukan hanya itu, Pak Darmono juga harus berpuasa khusus yang nantinya akan mengikat antara perjanjian dirinya dengan penghuni yang berada di sekitaran lahannya.
Perjanjian itu yang akan mengikat dirinya dengan perjanjian berdarah.
Artinya, seluruh kebijakan dari penghuni dari lahan itu sendiri akan membatasi Pak Darmono agar disesuaikan dengan apa yang diinginkannya.
Selama tidak mengandung tumbal, Pak Darmono mengiyakan serta menyetujui perjanjian itu.
Akhirnya, seluruh ritual kuno itu dia lakukan. Banyak warga yang mengira, kelakuan dari Pak Darmono ini melawan arus norma agama serta alam. Artinya apa yang dimimpikan oleh Pak Darmono merupakan sebuah implementasi para penghuni di lahan itu untuk mencari tumbal.
Ketidak perdulian Pak Darmono ini tertuju juga kepada Isterinya yang merasa bahwa langkah itu adalah langkah kotor yang sebenarnya harus dijauhi dan ditinggalkan. Namun Pak Darmono bersikukuh untuk terus menjalankannya walaupun menghadapi berbagai konflik yang sangat kontradiksi
Hingga akhirnya, Pak Darmono mulai merintis untuk membangun pabrik secara sedikit demi sedikit.
Dimulai dari dirinya yang hanya memiliki mesin kayu ala kadarnya. Dia menawarkan hasil dari prosesnya ke tiap warga hingga dia mampu merekrut beberapa karyawan dari desanya.
Proses memang tidak membohongi hasil. Lambat laun, pabrik Pak Darmono yang memproduksi kayu ini semakin berkembang. Dia juga bisa mendapatkan banyak sumber mengenai penjualan serta pendistribusian kayu yang dia produksi.
Tak ayalnya itu menjadi sebuah perubahan besar,
Pak Darmono dan kedua anaknya dilarang untuk bergaul kepada orang luar yang ternyata memiliki makna dan alasan tersirat sendiri.
Hal ini bisa dibilang bahwa, nantinya, ketika pabrik ini sudah besar dan terkenal, pabrik ini tidak lagi membutuhkan getih kebo atau darah kerbau.
Melainkan, yang dibutuhkan dari pabrik ini adalah getih menungso atau darah manusia yang diambil dari orang-orang di sekitarnya.
Perjanjian dan pengikatan dirinya terhadap penghuni lahan itu sudah diikrarkan ketika dirinya melakukan ritual
Larangan Pak Darmono juga berlaku kepada Isterinya yang tidak membeberkan awal mula perintisan pabrik ini dimulai.
Lalu, bagaimana cerita ini didapatkan?
Cerita ini didapatkan karena Pak Darmono mengambil warga untuk dijadikan sebuah persaksian dari kisah perjalanannya.
Warga itu yang nantinya masih memiliki ikatan saudara dengan narasumber.
Warga itu bernama Karyo, tukang kebun yang sekaligus pengasuh dua anak dari Pak Darmono itu sendiri.
Cerita ini bermula ketika Karyo direkrut oleh Pak Darmono untuk menjadi tukang kebun dan mengasuh kedua anaknya yaitu Damar dan juga Sri.
Awalnya, Karyo mengira bahwa Pak Darmono ini orang yang sangat ambisius. Namun setelah dia berada didekatnya, Karyo merasakan kehangatan
Dari sosok Pak Darmono yang konsisten itu. Pabrik yang dikelola oelh Pak Darmono semakin berkembang. Penjualannya semakin meningkat sehingga membutuhkan produksi yang sangat banyak.
Walaupun Karyo tukang kebun, dia juga sering sekali diajak oleh Pak Darmono untuk melihat-
proses produksi dari pabrik yang dikelolanya itu. Sesekali Karyo juga diperlihatkan berbagai macam alat yang digunakan untuk memotong dan merapihkan kayu yang sedang diproduksi oleh para karyawan Pak Darmono.
Awalnya, pabrik ini tidak memiliki kejanggalan sama sekali. Semua pekerja sangat rapih dan resiko kecelakaan pun sama sekali tidak ada.
Namun, begitu beberapa tahun setelah pabrik ini berdiri. Tepatnya, ketika pemesanan dari konsumen ini semakin banyak,
Ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi di jantung pabrik itu sendiri.
Salah satu karyawan yang kabarnya sedang kelelahan, dia lengah dalam bekerja. Baju dari karyawan itu terseret masuk ke dalam mesin rotary.
Yaitu mesin penggilingan kayu sehingga menyebabkan kepalanya hancur.
Para karyawan yang mengetahui rekannya tersebut terseret, langsung mematikan mesin. Namun sayang, nyawanya tidak bisa tertolong.
Satu orang menjadi korban dari kecelakaan maut di pabrik milik Pak Darmono.
Kecelakaan pertama di jantung pabrik milik Pak Darmono ini bisa dibilang merupakan kecelakaan murni biasa.
Artinya, ketika diselidiki oleh pihak berwajib pun, tidak ada tanda-tanda kejanggalan yang menyalahkan dari pemilik pabrik itu sendiri.
Setelah kejadian itu, banyak karyawan yang sangat berhati-hati untuk meminimalisir kecelakaan.
Permintaan konsumen menambah meningkat dan tajam. Itu artinya, pabrik milik Pak Darmono sangat terkenal akan kualitas dan harus memperbanyak kuantitas produksinya.
Sangat tidak wajar juga bagi pabrik baru yang langsung menghentak banyak karyawan dan produksi yang sangat meningkat.
Simpang siur pendapat akan pabrik itu mulai melebar luas seakan-akan menjadi kabut baru bagi warga sekitar.
Aktivitas dari Pak Darmono sendiri bisa dibilang sangat normal dan tidak menghabiskan banyak kecurigaan dalam pikiran warga.
Sesekali Pak Darmono terlihat memomong kedua anaknya bersama Karyo ketika mengunjungi Pabrik.
Kadang pula, dia pergi bersama isterinya ke rumah saudara
Jauhnya yang mana tujuan utama dari itu semua adalah untuk menjalin silaturahmi dan mempereratnya agar tidak putus.
Ruang untuk bahan cibiran bagi warga kepada Pabrik Pak Darmono pun sangat tertutup dan nihil akan bukti bahwa Pabrik itu melakukan sesembahan juga pesugihan.
Tepatnya, ketika para saudara jauhnya mengunjungi pabrik itu secara bergantian. Hal yang serupa terjadi.
Kala itu, anak dari adik ibunya Pak Darmono sedang bermain-main di dekat pabrik. Karyo yang mendapat tugas menjaga anak tersebut mengajar Damar dan juga Sri.
Saat itu karyawan tidak terlalu ramai. Hanya sedang memperbaiki mesin-mesin dan mengeceknya kembali.
Karyo sempat memperingatkan kepada anak tersebut untuk tidak bermain di dekat pabrik karena baru saja ada kejadian yang sempat menewaskan karyawan pabrik itu sendiri.
Dia pun menarik paksa anak itu untuk tidak bermain di sekitaran pabrik.
Begitu juga Damar dan Sri, Karyo menarik paksa keduanya untuk tidak memasuki pabrik yang seluruh alatnya sangat berbahaya.
Baru sampai dia di dekat pabrik, letaknya di dekat mesin pembelah kayu,
Dia melihat sesosok orang besar dengan baju ala jaman dulu seperti pendekar dan menggunakan kain adat jawa serta keris yang berada di belakang punggungnya sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam.
Sontak saja anak itu menjerit keras dan ketakutan. Dia langsung berlari dan melaporkan hal ini kepada kedua orang tuanya yang saat itu sedang makan bersama Pak Darmono dan juga isterinya.
Karyo tidak sempat melihat apa yang diketahui anak itu. Karena begitu dia ingin masuk, anak itu sudah menjerit ketakutan dan mengatakan,
"MERTOLULUT!"
Karyo tidak tahu apa itu MERTOLULUT yang dimaksud anak itu. Karena memang keluarga dari Pak Darmono ini berdarah ningrat, jadi ada maksud dari ucapan yang berbunyi "MERTOLULUT" yang dimaksud.
Akhirnya, anak itu menceritakan kepada orang tuanya bahwa dia sempat bertemu dengan MERTOLULUT di dekat mesin pabrik milik Pak Darmono. Sontak saja, kedua orang tua anak itu langsung merinding ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin yang sangat banyak.
Pak Darmono yang mendengar ucapan anak kecil itu hanya tersenyum sembari berkata,
"Wes, muleh!"
"Sudah, pulang!"
Mereka pun langsung pulang ke rumah untuk mencegah hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi.
Namun, setelah beberapa hari berselang, dikabarkan anak tadi meninggal dunia akibat demam sembari berucap,
"MERTOLULUT AREP NJUPUT AKU!"
(MERTOLULUT MAU MENGAMBILKU!)
Pak Darmono sempat memarahi Karyo untuk tidak mengajak siapapun dari keluarganya ke pabrik. Hal ini dikarenakan, ada sesuatu yang tersimpan yang belum diketahui oleh Karyo itu sendiri.
Di rumah Pak Darmono, Karyo diberi kamar untuk beristirahat.
Kamar itu berdekatan dengan kamar Damar dan juga Sri. Dia juga sempat berpikiran bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Pak Darmono tidak boleh dirasakan oleh isteri dan anak-anaknya.
Karena harta dari hasil pabrik ini merupakan harta yang dilarang.
Kegiatan yang dilakukan Pak Darmono sendiri tidak terlalu banyak. Selain mengecek pabrik, bermain bersama kedua anaknya, mengunjungi saudara-saudara jauhnya, Pak Darmono juga biasa tidur di awal waktu untuk memudahkan dirinya bangun di tengah malam.
Tidak banyak yang diketahui Karyo tentang apa yang dilakukannya di tengah malam, hanya saja, pernah Karyo mendapati Pak Darmono sedang menggunakan pakaian adat jawa lengkap dengan keris di belakangnya dan mengunjungi pabrik itu pada malam hari.
Kata Karyo, Pak Darmono ini sedang melakukan ritual khusus. Sudah sejak lama Karyo ini sempat curiga dengan apa yang dilakukan oleh Pak Darmono itu sendiri. Namun dia tidak bisa berkata-kata ketika sudah berada di hadapan Pak Darmono.
Karyo menimpali lagi kalau dirinya sempat tak bisa berbicara sepatah katapun ketika dia berhadapan dengan Pak Darmono. Seperti ada yang membungkam mulutnya.
Hal yang dilakukan oleh Pak Darmono sendiri ketika mengunjungi pabrik itu yaitu tepat ketika posisi sedang "padang bulan"
Atau cerah bulan. Artinya, bulan benar-benar berada di atas kepalanya. Dia juga sempat membawa dua ember yang berisi seperti air yang nantinya akan disiramkan di setiap mesin dari pabrik itu sendiri.
Entah apa isi dari ember itu, yang pasti isinya bukanlah sekedar AIR BIASA!
Setelah hal itu dilakukan, pasti ada sesuatu kecelakaan yang terjadi di pabrik. Konon, ada beberapa yang sempat jarinya terpotong karena berhadapan dengan mesin.
Lagi-lagi, hal ini hanya dinilai sebagai kecelakaan murni. Barulah, Karyo merasakan kejanggalan yang luar biasa.
Dia menyebutkan, jika sudah ada kecelakaan yang terjadi di pabrik, produksi pabrik menjadi meningkat drastis. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataannya yang seharusnya produksi pabrik berkurang dengan jumlah karyawan yang sempat berkurang karena faktor kecelakaan.
Puncak masalah dari pabrik ini adalah di saat pabrik ini kehilangan banyak karyawan karena resiko kecelakaan yang sangat besar dan tidak biasa.
Pak Darmono juga sempat menyuruh Karyo untuk mencari karyawan sampai dapat.
Namun tak ada yang mau bekerja di pabrik itu.
Setiap orang yang ditemui Karyo untuk diajak bekerja di pabrik itu, mereka berkata bahwa
"Pabrik kui njaluk nyowo! Getihe sing menungso, genahe MERTOLULUT!"
(Pabrik itu minta nyawa! Darahnya dari manusia, tempatnya MERTOLULUT!)
Karyo bingung, apa itu MERTOLULUT?
Ternyata, setelah diselidiki, MERTOLULUT adalah sebutan bagi algojo keraton. Benar atau tidaknya, Pak Darmono ini sempat bertransaksi jiwa dengan MERTOLULUT agar pabriknya bisa memproduksi banyak barang produksinya sesuai dengan permintaan para konsumen.
Karyo sempat menutup mulut ketika dirinya mengetahui kebenaran dari penuturan para mantan pekerja yang beberapa darinya pernah mendapati MERTOLULUT di dekat mesin pemotong kayu yang pernah dilihat oleh anak dari adik ibunya Pak Darmono yang meninggal itu.
Usut punya usut, setelah pabrik ini mengalami kemunduran karena kurangnya pekerja yang bekerja di pabrik itu, Karyo pun izin untuk berhenti bekerja di keluarga Pak Darmono.
Sontak saja, Pak Darmono marah besar. Dia sempat menampar keras wajah Karyo hingga lebam.
Saat itulah sosok asli dari Pak Darmono terbuka jelas dihadapan Karyo. Pak Darmono ternyata orang yang sangat tempramental dan pemarah.
Karyo pun tak bisa melanjutkan bekerja di tempat Pak Darmono karena berat hati tekanan bathin yang dirasakannya.
Dia juga tidak mau menjadi korban dari MERTOLULUT yang kabarnya masih mencari jiwa agar pabrik itu bisa berjalan lancar seperti semula.
Kepergian Karyo ini bagaikan sebuah pertanda bahwa, kebobrokan dari keluarga Pak Darmono terbuka.
Setelah pabrik itu sepi karyawan, akhirnya produksi pun dihentikan. Tidak ada aktivitas dari tanda-tanda hidupnya pabrik itu sendiri.
Namun, hal yang mengejutkan justru terjadi. Keluarga Pak Darmono tewas secara bersamaan. Kedua anaknya yang bernama Damar dan Sri ditemukan-
Tewas di kamarnya dengan wajah yang sangat pucat. Begitu juga dengan Pak Darmono dan isterinya. Mereka berdua tewas seperti habis menenggak obat dengan kadar dosis yang sangat tinggi.
Polisi pun mengatakan bahwa keluarga ini murni tewas karena bunuh diri.
Karena tekanan mental yang dihadapi oleh Pak Darmono ketika mendapati pabriknya hancur, dia pun stress berat dan berimbas kepada bunuh diri.
Kedua anaknya yang masih kecil dan juga isterinya ikut terjun dalam pilihan Pak Darmono ini.
Kini, pabrik itu hanyalah sebuah cerita yang berkembang di masyarakat sekitar. Karena, setelah kejadian meninggalnya keluarga Pak Darmono, kabarnya mereka juga sempat mendengar suara ritual gamelan juga aktivitas pabrik seperti sedang memproduksi sesuatu.
Entah tahun berapa, narasumber lupa menyebutkannya. Pabrik ini diratakan dengan tanah (dihancurkan) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sempat beredar issue juga tentang mantan pekerja yang sering diganggu oleh sosok MERTOLULUT dalam mimpinya.
Katanya, MERTOLULUT itu menuntut mereka untuk bekerja karena dia belum menjadi korban dari pabrik itu sendiri.
Benar tidaknya cerita ini, yang pasti, kita jadikan pelajaran bahwa, setiap manusia yang bekerja sama dengan iblis, maka ada tanggungan yang dibayar.
~~~SEKIAN~~~