PESUGIHAN GUNUNG KAWI
JejakMisteri - "Tok tok tok !" Suara pintu di ketok berkali-kali dengan kencang.
"Rahman, aku tau kamu di dalam!" teriak seorang pria di luar sana.
Beberapa saat kemudian, Rahman membuka pintu. Entah ini sudah berapa kali Rahman di datangi orang untuk menagih hutang. Sebenarnya dulu Rahman adalah orang yang berkecukupan mempunyai usaha pengolahan kayu. Namun karena kegemarannya berjudi, lama-kelamaan kehidupan Rahman pun berubah.
"Bu, cincinya aku pinjam dulu. Sewa rumah pada Pak Mansyur udah di tagih, dan dia pasti mengusir kita jika tidak segera mencicilnya," ucap Rahman pada Hamidah, istrinya.
Hamidah hanya menghela nafas panjang. Dipandanginya si Ujang yang tengah tertidur nyenyak beralas karpet. Perempuan itu tak menjawab kata-kata suaminya. Dia bergegas mencari sesuatu di balik lemari pakaian yang sudah keropos di makan rayap, yang ada di sudut kamar.
"Nanti setelah urusan dengan pak Mansyur selesai, aku akan menemui Sapta untuk menjual kambingku, atau aku gadaikan dulu buat ongkos bekerja di luar Jawa," lanjut Rahman meyakinkan Hamidah.
Hamidah tak mampu berkata-kata. Dia hanya diam tak tau harus bagaimana lagi. Pagi itu seperti biasa, Hamidah keluar menuju rumah Bu Jatmiko untuk mencuci baju.
Hamidah adalah istri yang penurut. Dulu sewaktu suaminya kaya pun, Hamidah juga hidup sederhana. Maklum, Hamidah sendiri berasal dari keluarga tak mampu. Maka sejak menikah dengan Rahman yang seorang juragan, gaya hidup Hamidah pun senantiasa bersahaja.
***
Suatu hari, Rahman berhasil mengumpulkan uang yang rencananya di gunakan untuk ongkos bekerja di luar Jawa, mengikuti adiknya di Bakir, yang sudah duluan sukses berkebun kelapa sawit di Palembang.
Setelah berpamitan dengan Hamidah dan Ujang, Rahman pun bergegas berangkat menuju terminal bus. Perjalanan dari kampung menuju terminal cukup memakan waktu. Bahkan terlebih dulu Rahman harus naik angkot untuk sampai di terminal.
Sesampainya di terminal, bus yang akan di tumpangi belum datang. Rahman beristirahat di sebuah warung tak jauh dari terminal. Rahman menyalakan rokoknya, pandanganya kosong ke depan.
Dua orang pria tengah asik ngobrol tak jauh dari tempat duduk Rahman. Awalnya Rahman acuh tapi sepertinya sesuatu menarik perhatiannya.
Dua pria itu sedang berbicara soal pesugihan di Gunung Kawi. Rahman mendengarkan pembicaraan itu secara seksama, setelah faham Rahman segera bangkit. Dia pun membatalkan niatnya untuk pergi bekerja ke luar Jawa.
Rahman memutuskan untuk pergi ke Gunung Kawi sesuai dengan apa yang di bicarakan dua orang pria tadi. Rahman tak punya pengalaman apa-apa soal mencari pesugihan, dan hanya bermodalkan tekad saja dia memberanikan diri untuk ke sana.
Setelah perjalanan dengan bus kurang lebih 18 jam, akhirnya Rahman pun sampai di kawasan Gunung Kawi. Di pandanginya gunung itu dari kejauhan lalu dengan tekad yang bulat Rahman mulai menyusuri jalan setapak diantara semak-semak dan popohonan, juga jurang dan tebing menuju puncaknya.
Perjalanan menuju puncak gunung sangat tidak mudah. Beberapa kali Rahman nyaris terpeleset. Tak terasa hampir tiga jam Rahman berjalan menuju puncak. Dirinya pun merasa letih dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon besar saat malam menjelang.
Rahman duduk di sebuah batu besar yang memiliki permukaan datar. Malam yang gelap gulita hanya sinar bulan diantara celah dedaunan yang menerangi. Dari kejauhan terdengar kicauan burung liar, gemercik air di telaga dan hembusan angin menyapu pepohonan.
Saking letihnya, Rahman tertidur di atas bebatuan. Namun, gigitan nyamuk membuatnya tak nyaman hingga kembali terjaga.
Jantung Rahman serasa berdetak tak beraturan.dari kegelapan hutan muncul sosok perempuan tua memakai tongkat. Wajahnya tertunduk, rambut putih terurai dan baju kumuh berjalan terseok-seok menuju ke tempat Rahman duduk.
Sosok aneh itu makin dekat, semerbak harum kamboja tercium sungguh menyengat. Wajah perempuan tua itu makin terlihat jelas, hampir tak ada bedanya dengan nenek-nenek pada umumnya hanya saja wanita tua itu berpakaian seperti orang kuno jaman kerajaan.
Rahman mencoba menyapa perempuan tua itu. Namun perempuan itu hanya diam mengabaikan Rahman, bahkan terus berjalan ke arahnya hingga benar-benar sangat dekat.
Rahman terperanjat ketika tubuh wanita tua itu menembus tubuhnya dan terus berjalan ke arah sebaliknya tanpa memperdulikan Rahman.
Seketika Rahman meloncat dari tempat duduk, dia mundur dan memperhatikan perempuan tua yang berjalan menjauhinya dan hanya punggungnya yang terlihat oleh Rahman. Perempuan itu tiba-tiba berhenti di hadapan sebuah pohon dan menengok ke arah Rahman dengan senyum misterius,dalam sekejap tubuh perempuan itu berubah menjadi gumpalan api lalu membumbung tinggi terbang ke atas dan hilang di balik rimbun pepohonan.
Rahman terkesiap. Menatap tak percaya pada apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Sesaat ia terpana, mencoba mencerna peristiwa menggunakan logika.
Perlahan pria itu menyadari, suara deru angin yang tadi membuat rimbun pohon bambu di sekitarnya meliuk tak beraturan, kini tak lagi terdengar.
Kesunyian kembali menyapa. Membuat nyalinya menciut. Sinar rembulan yang tadi menerangi, kini menghilang tertutup awan hitam.
Hening dan gelap. Gendang telinganya mulai menangkap suara-suara aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia dapat merasakan, hangat embusan napas, entah dari makhluk apa, menerpa kulit.
Rahman mendadak gentar. Tekadnya meluntur. Sesaat ia memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Ketakutan pada sesuatu tak kasat mata, yang seperti sedang memperhatikannya dari sudut-sudut gelap rimba, membuat pria bertubuh jangkung itu bergidik.
Tanpa membuang waktu, ia buru-buru membalikkan badan, ingin secepatnya meninggalkan hutan. Namun, langkahnya mendadak berhenti, demi mengingat perjuangannya yang tak mudah demi sampai di tempat ini.
Terbayang wajah lelah Hamidah, wanita yang mendampingi selama ini. Sudah ia bulatkan tekad, akan membahagiakannya, demi membalas pengabdian yang selama ini ia lakukan.
Juga Ujang, sang putra semata wayang yang kerap menangis, karena tidak bisa memiliki fasilitas bermain seperti teman-temannya. Tubuh bocah laki-laki itu kurus, kurang asupan gizi.
Ah, ayah macam apa dia? Bahkan menghidupi satu tanggungan buah hati saja, ia tak sanggup.
Terbayang pula, tatapan sinis dan mencemooh dari orang-orang di sekelilingnya. Seolah kemiskinan Rahman menjadi alasan bagi mereka untuk tega menghina ia dan keluarga.
Rahman menarik napas panjang. Ketakutannya perlahan menghilang, berganti dengan tekad membara untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Ia pun kembali membalikkan tubuh, melangkahkan kaki, semakin jauh menembus belantara Pegunungan Kawi, yang konon menyimpan banyak misteri.
Rembulan kembali menampakkan diri. Rahman tersenyum lega. Cahaya redup sang purnama, bisa sedikit membantu melancarkan perjalanannya. Tak dihiraukannya ratusan pasang mata yang seolah mengawasi. Juga suara-suara aneh yang seperti mengikuti.
Tekadnya sudah bulat. Bahkan kalau saat ini bertemu dengan makhluk halus seperti perempuan tua tadi, tidak akan membuatnya menyerah. Rasa muak pada kemiskinanlah yang membuatnya nekat. Sendirian menerobos hutan di tengah malam, tanpa membawa apa-apa kecuali kesungguhan tekad.
Langkahnya mendadak berhenti, saat netranya melihat sebuah rumah kecil berdiri tersembunyi di antara rimbun semak. Tampak reot, tua termakan zaman.
Redup pelita yang menerobos sela-sela lubang rumah, membuat Rahman yakin, rumah itu masih berpenghuni.
Sesaat Rahman ragu. Benarkah ini rumah yang ia cari? Sesaat ia bergeming, ketika tiba-tiba telinganya mendengar suara berat seorang perempuan tua, menyapa dari dalam rumah.
“Jangan hanya berdiri di situ, Rahman. Masuklah. Aku sudah menunggumu.”
Rahman terkejut. Bagaimana si empunya rumah bisa mengetahui namanya? Dan tadi ia bilang, sedang menunggunya?
Di tengah keraguan dan rasa takut yang tiba-tiba datang, suara serak itu terdengar lagi.
“Jangan takut, Anak Muda. Aku sudah tahu maksud kedatanganmu.”
Rahman terkejut. Si pemilik suara bahkan mengetahui kegalauan hatinya. Dengan ragu, Rahman melangkahkan kaki mendekati rumah bilik bambu itu.
Baru saja akan mengetuk, pintu rumah mendadak terbuka. Tampak di hadapannya, seorang perempuan renta dengan rambut yang sudah sepenuhnya memutih, tengah duduk menghadap pedupaan yang mengeluarkan asap putih samar. Asap itu berasal dari kemenyan yang sedang dibakar. Bau pekat berciri khas, memenuhi ruangan di rumah itu. Menambah mistis suasana.
“Duduklah.” Perempuan renta itu menunjuk sisi pedupaan di hadapannya.
Rahman melangkah ragu, namun tanpa menunggu diperintah dua kali, ia menurut saja, duduk di tempat yang ditunjuk.
“Aku Nyi Damar. Sekarang, sebutkan maksud kedatanganmu ke hutan ini, wahai Anak Adam.”
Rahman mengernyitkan dahi. “Nyi Damar tidak bisa menebak maksud kedatanganku?”
Perempuan renta berwajah menyeramkan itu terkekeh. “Aku bisa menebak. Hanya saja, aku ingin dengar langsung kata-kata itu dari mulutmu.”
Rahman menghela nafas panjang. Hatinya sedikit ragu. “Aku ingin kaya, Nyi. Bosan rasanya hidup melarat. Kudengar, keinginan itu bisa terwujud dengan mendatangi hutan di Gunung Kawi ini.”
Nyi Damar kembali terkekeh. “Apa kau sudah yakin dengan keinginanmu, Rahman?”
Rahman mengangguk mantap. Bayang-bayang hidup bergelimang harta telah menggoda keimanannya. “Yakin, Nyi.”
“Tekadmu sudah bulat?” Nyi Damar tampaknya masih meragukan kesungguhan Rahman.
Pria itu mengangguk mantap.
“Kau sudah tahu konsekuensinya?"
“Iya, Nyi. Aku sudah tahu.”
“Kau tahu syarat-syaratnya?”
“Belum, Nyi.” Rahman menggeleng ragu.
Nyi Damar menatap Rahman tajam. “Kau harus mengorbankan satu nyawa sebagai syarat awal sekaligus syarat utama untuk mewujudkan keinginanmu itu.”
Rahman terkejut. Mencoba mencerna maksud perkataan Nyi Damar, dan ia yakin perempuan bungkuk itu serius dengan ucapannya.
“Bagaimana?” Nyi Damar membuyarkan lamunannya.
“Apa ... tidak ada syarat lain, Nyi?” Rahman mencoba menawar.
Senyum di wajah Nyi Damar menghilang. “Kau pikir ini pasar, bisa tawar menawar?!” bentaknya.
Rahman mengkeret ketakutan. “Iya, Nyi. Saya ... saya bersedia,” jawabnya gugup.
Nyi Damar tertawa melengking, memecah kesunyian hutan tengah malam itu. Membuat Rahman makin ketakutan.
“Sekarang pejamkan matamu.” Nyi Damar mengarahkan telapak tangannya yang berkerut dan pucat ke depan muka Rahman.
Pria itu menurut. Ia memejamkan matanya, sementara Nyi Damar mulai membaca mantra.
Sesaat Rahman merasa terbawa dalam pusaran angin kencang yang entah muncul dari mana.
Tak lama, pusaran itu berhenti, Rahman membuka mata, dan ia tersentak kaget, karena ia tidak lagi berada di rumah tua Nyi Damar, melainkan berada di sebuah area seperti kompleks candi tua yang bangunannya kokoh berderet, tapi berjamur di setiap sudut.
Belum hilang rasa terkejutnya, sebuah tepukan di bahu kembali membuatnya terlonjak kaget.
Rahman menoleh, dan mendapati sosok pria tua bertubuh jangkung sedang berdiri di belakangnya.
“Pilih yang mana?” Tanpa basa-basi, pria tua itu menyodorkan dua ekor ayam kampung kepada Rahman. Satu betina berukuran besar, satu lagi anak ayam jantan kecil.
Rahman yang kebingungan hanya berdiri terpaku, menatap dua ekor ayam yang dua kakinya dipegangi oleh pria tua itu.
“Cepat! Kau mau pilih yang mana?!” hardik pria tua itu tak sabar.
Rahman terlonjak kaget, buru-buru ia mengambil ayam jantan berukuran kecil, yang dipegang tangan kiri pria tua itu.
“Kau yakin dengan pilihanmu?” tanya pria tua itu dengan suara tajam.
“Me ... memangnya kenapa?” Rahman tak mengerti. Tadi disuruh memilih, sekarang sudah melakukan yang disuruh, malah ditanya lagi.
“Dia masih terlalu muda. Umurnya masih panjang.”
“Maksudnya?”
“Ayam ini sudah tua. Aku menyarankan, pilih yang ini saja.” Pria tua itu menyodorkan ayam betina besar kepada Rahman.
Rahman yang kebingungan menurut saja, tanpa mampu membantah. Ia lalu mengambil ayam betina itu.
Pria tua itu terkekeh senang, lalu sesaat kemudian, ia terdiam, menundukkan kepala, seraya khusyuk membaca mantra yang bahasanya tidak dimengerti oleh Rahman.
Tak lama terdengar angin menderu datang dari kejauhan, disertai cahaya emas menyilaukan, meliuk-liuk mendekati tempat Rahman berdiri. Makin lama makin dekat, cahaya itu berkilatan menyilaukan mata.
“Lempar ayamnya!” teriak pria tua yang kini tampak kewalahan, entah menghadapi apa. Yang jelas, ia kini berdiri sempoyongan di tempatnya berpijak.
“Lempar ayamnya ke tengah cahaya itu!” ia berteriak lagi. Rahman yang awalnya kebingungan, langsung menyadari perintah itu ditujukan padanya.
Buru-buru ia melempar ayam betina yang tadi dipegang ke pusaran cahaya bercampur angin di hadapannya.
Ayam betina itu berteriak ketakutan saat tubuhnya terlempar masuk ke dalam pusaran cahaya. Tepat di saat ayam itu hampir menyentuh tanah, pusaran cahaya itu langsung menghilang, dan sekonyong-konyong berubah menjadi sosok ular berwarna hijau berukuran besar dengan kepala berbentuk naga.
Dengan sigap, ular sebesar batang kelapa itu menyambar ayam yang tadi dilemparkan oleh Rahman. Taring besar tajam yang mencuat dari sela-sela mulutnya, langsung merobek dan mencabik tubuh ayam betina yang hanya menggelepar tak berdaya.
Dan setelah puas mencabik, si ular kemudian menelan bulat-bulat bangkai ayam berlumuran darah itu.
Tanpa menoleh sedikit pun pada Rahman dan sang pria tua, ular itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari hadapannya.
Rahman masih terpaku dengan tubuh gemetar menahan ngeri. Ia menatap tak percaya pada kejadian yang tadi berlangsung di depan matanya.
Sekilas terdengar suara tawa penuh kemenangan dari pria tua yang berdiri di sampingnya.
Sebelum akhirnya suasana kembali sunyi. Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja, ia sudah kembali berada di rumah tua reot milik Nyi Damar.
“Sudah selesai. Sekarang kau boleh pulang,” ujar Nyi Damar dengan senyum menyeringai.
Rahman yang masih terkejut, menatap Nyi Damar penuh ketakutan. “Itu tadi apa, Nyi?” tanyanya tergagap.
“Tidak perlu banyak bertanya. Simpan rahasia ini baik-baik. Semua demi kebaikanmu juga.” Nyi Damar tampak acuh.
“Simpan uang ini baik-baik. Ingat! uang ini adalah uang tumbal. Kau bisa menggunakan uang ini sebagai pancingan untuk menjerat calon tumbalmu.” Nyi Damar menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah pada Rahman, yang diterimanya dengan tangan gemetar.
“Kau harus mulai mendirikan usaha. Untuk menutupi asal-usul kekayaan yang nanti kau dapatkan. Ingat! Setiap tiga bulan sekali, kau harus mempersembahkan satu tumbal manusia untuk diserahkan pada Nyi Blorong. Gunakan uang itu untuk menjerat tumbal yang kau pilih.”
Rahman menatap uang seratus ribu rupiah di tangannya. “Ular itu ... dia Nyi Blorong?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Itu wujud bagusnya, anak muda. Kau akan tahu wujud aslinya yang lebih menyeramkan, kalau kau membuatnya marah.” Nyi Damar tertawa melengking.
Rahman sekuat tenaga menelan saliva. Tenggorokannya terasa tercekat. “Tumbalnya boleh siapa saja, Nyi?” tanyanya.
Nyi Damar mengangguk. “Bebas. Dan uang itu akan kembali padamu, setelah ia berhasil mendapatkan tumbal. Sekarang pergilah. Ingat jangan sampai telat memberikan tumbal pada Nyi Blorong. Kuberitahu, dia mudah tersinggung.” Nyi Damar terkekeh pelan.
Rahman menjengit ngeri. Tanpa banyak kata, ia kemudian berpamitan pada Nyi Damar yang kembali tertawa saat melepas kepergiannya.
Setengah berlari, Rahman menapaki jalan setapak hutan di lereng Gunung Kawi itu. Rasa takut membuatnya tak memedulikan kulit tubuh yang luka terkena onak duri pepohonan. Ia hanya ingin secepatnya sampai di rumah, dan meninggalkan hutan yang mengerikan itu.
***
Rahman melangkah gontai menyusuri jalan menuju rumah kontrakannya, yang terletak di tengah perkampungan ramai penduduk.
Perjalanan pulang dari Gunung Kawi cukup menguras tenaganya, apalagi otaknya masih terasa tegang, akibat peristiwa yang semalam ia alami.
Rahman baru saja menjejakkan kaki di teras. Rumah kontrakannya itu tampak sepi. Mungkin Hamidah sedang kuli mencuci baju di rumah Bu Jatmiko.
Ia baru saja akan membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Ketika tiba-tiba, Yati dan Jaka, suaminya, yang merupakan tetangga samping rumah, berlari menghampirinya.
“Bang Rahman!” Yati memanggil Rahman setengah berteriak.
“Ada apa, Mbak?” Rahman menatap suami istri itu heran.
“Midah semalam dapat telepon dari keluarga Bang Rahman di kampung. Dia bilang, Ibu Bang Rahman meninggal. Makanya tadi pagi dia langsung pulang ke kampung Abang,” jelas Jaka.
Rahman terkejut. Wajahnya memucat. Seketika pikirannya melayang pada peristiwa semalam di hutan Gunung Kawi.
Jangan - jangan....
“Midah enggak bisa menghubungi Bang Rahman, karena enggak tahu harus menghubungi siapa. Abang juga kan enggak bawa HP.” Yati tampak prihatin.
“Bukan enggak bawa HP, Mbak, tapi saya emang enggak punya.” Rahman mulai menangis. Rasa bersalah perlahan menghantui batinnya.
“Coba Abang telepon Midah.” Yati menyerahkan ponsel miliknya pada Rahman, setelah sebelumnya perempuan bertubuh gemuk itu menekan nomor HP Hamidah.
Terdengar nada panggil dari ujung sana.
Tak lama kemudian.
“Halo?”
“Midah? Ini abang.”
“Ini Bang Rahman? Cepat pulang, Bang. Ibu meninggal....” Terdengar isak tangis Hamidah di ujung telepon.
Rahman terduduk lemas. Ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Yati. Batinnya terasa sakit oleh rasa bersalah, bercampur penyesalan. Ia tak menyangka, ayam betina dewasa yang semalam ia pilih, ternyata adalah sosok sang ibu.
Ia telah menumbalkan ibu kandungnya sendiri. Oh, anak macam apa dia? Masih pantaskah ia bertakziah pada jenazah sang bunda yang telah dengan tega ia tumbalkan demi gemerlap duniawi?
Rahman meremas rambutnya kesal. Sesaat kemudian, tangisnya meledak tanpa bisa ia kendalikan. Dengan suara serak, ia berteriak-teriak memanggil nama sang ibu.
Bayang-bayang ayam betina yang dicabik-cabik ular raksasa, kembali terbayang. Menyayatkan luka di hati Rahman.